
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan BPS baru saja merampungkan Data Lahan Baku Sawah 2019. Sinergi antar instansi pelat merah itu, melahirkan satu data terkait lahan baku sawah Indonesia atau penghitungan luas panen dan produksi 2019.
Kepala BPPT, Hammam Riza, menyebut, data itu akan menjadi rujukan utama dalam menentukan kebijakan pangan, terutama beras. BPPT sejak 2018 mengusung penerapan inovasi teknologi Kerangka Sampel Area (KSA) dalam menyempurnakan data lahan baku sawah.
"Kami bersama BPS terus melakukan penghitungan yang lebih akurat, agar data lahan baku sawah 2019 dapat menjadi rujukan yang valid, khususnya dalam memutuskan kebijakan nasional di bidang pertanian," kata Hammam dalam siaran pers pada Selasa, (4/1).
Hammam mengatakan, metode KSA sudah digunakan sejak Januari 2018 untuk menyempurnakan data produksi padi. KSA menjadi solusi memperbaiki metodologi perhitungan produksi padi.
"KSA dapat memberikan data produktivitas pertanian yang lebih akurat karena cara pengambilan datanya yang harus dilaporkan langsung dari titik koordinat, pengamatannya menggunakan perangkat smartphone dari para mitra statistik di lapangan," jelas Hammam.
Metode KSA menjadi bukti, bahwa teknologi berperan penting dalam menunjang akurasi data statistik. Berdasarkan metode hitungan KSA didapatkan data produksi padi tahun 2019 mampu sebanyak 31.3 juta ton.
Lebih lanjut Hammam mengatakan bahwa pihaknya juga terus berupaya melakukan kaji terap teknologi, untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian. Salah satunya dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligences (AI).
"Penerapan kecerdasan buatan (AI) di sektor pertanian, tentu akan membawa perubahan besar. Perubahan ini artinya itu manfaat yang baik ya, agar industri agrikultur di Indonesia semakin berdaya saing di era industri 4.0," paparnya.
Keberadaan AWR Kementan menurut Hammam, merupakan sebuah terobosan teknologi. Dirinya siap memperkuat AWR dengan pemanfaatan artificial intelligence (AI) dengan Internet of Thing (IoT), sehingga seluruh tahapan-tahapan vegetasi dari berbagai komoditas pertanian dapat bergerak mengadopsi industri 4.0.
"Konsepnya adalah AI Kuadrat, yakni Artificial Intelligence untuk Agricultural Intelligence. Ini akan menjadi terobosan dalam memberikan penguatan untuk menjaga kedaulatan pangan," pungkas Hammam.
https://ift.tt/2Sgvymx
February 05, 2020 at 07:42AM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Rencana BPPT Terapkan AI Pada Sektor Pertanian"
Post a Comment